Rabu, 12 November 2008
Kiat‑Kiat Sukses di dalam Karir Guru Menurut Perspektif Psikologi
Makalah disampaikan kepada Peserta Diklat Penyusunan Kurikulum Tingkat
Satuan Pendidikan Guru SMK non Teknik se Kalimantan Timur
Samarinda, 15 Januari 2007 di SMK Negeri 1 Samarinda
*) Prof. Dr. Suharnan, MS adalah Guru besar Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Pengantar
Pada jaman sekarang dan yang akan datang ketersediaan sumberdaya alarn yang rnelimpah tidak banyak menentukan kemajuan suatu masyarakat dan bangsa, tetapi faktor kualitas perorangan dan kelompok masyarakat itu sendiri yang menentukan kemajuan (McRae, 1995). Apalagi dengan adanya kecenderungan globalisasi dan transparansi informasi, orang dapat berkomunikasi dan memperoleh informasi dari belahan dunia manapun. Kehidupan menjadi Saling tergantung satu sama lain, rentan terhadap perubahan yang terjadi di luar prediksi dan lebih kompetitit. Untuk dapat meraih sukses di dalam karir dan kehidupan, seseorang memerlukan sejumlah kualitas pribadi sebagai modal dasar yang sesuai dengan ni kompetisi yang menuntut kualitas di satu sisi, dan kerjasarna di sisi lain (Suharnan., 1997, 2006).
Bagaimana dengan fenomena yang ada sekarang berkaitan dengan tuntutan dunia keria dan karir?. Sesuai dengan pengamatan penulis dua tahun terakhir terhadap sejumlah iklan lowongan kerja vang dimuat di beberapa surat kabar nasional, mereka rnensyratkan para calon pelamar kerja dengan kuallias‑kualitas pribadi tertentu. Syarat‑syarat yang penting selain seorang pelamar memiliki pendidikan formal dan pengalaman kerja di bidang yang sesuai, juga harus memiliki antara lain adalah motivasi tinggi, keterampilan komunikasi yang baik, kemandirian bekerja, kerjasama tim, ulet dan gigih, menyukai tantangan, berkepribadian menarik, berkemauan membangun relasi. Berdasarkan iklan lowongan kerja itu, paling sedikit untuk jabatan setingkat manajer‑eksekutif dapat disimpulkan, bahwa ijasah dan transkrip yang diberikan oleh perguruan tinggi adalah belum cukup. Untuk meraiih sukses di dalam meniti karir dan bahkan kehidupan, selain pendidikan formal, juga dibutuhkan beberapa kualitas pribadi tertentu dari seseorang yang cocok dengan tuntutan tugas dan pekerjaan yang akan ditekuni (Suharnan, 2002).
Sukses dan Karakteristik Orang Sukses
Setiap orang tentu ingin sukses baik di dalam menempuh karir maupun kehidupan secara umum. Meski demikian, sukses itu sendiri merupakan istilah yang sulit diartikan dengat tepat, karena bersifat relatif dan berbeda‑beda bagi masing-masing orang, tergantung dari sudut mana mereka memandang. Meski demikian, terdapat sejumlah indikator umum vang sering melekat pada istilah sukses. Di dalam bahasa sehari‑hari "sukses" juga sering disebut "berhasil" atau keberhasilan". Dengan demikian, sebutan orang sukses boleh jadi sama dengan orang berhasil.
Secara harfiah sukses dapat diartikan sebagai penyelesaian suatu. tugas atau pekerjaan. Jadi, seseorang dikatakan sukses dalam bertugas apabila ia telah
menvelesalkan tugas yang, diberikan kepadanya. Menurut pengertian yang lebih luas,
sukses di dalam hidup dapat diartikan sebagai proses mengeiar dan mewujudkan
tujuan‑tujuan sasaran‑sasaran penting di dalam kehidupan seseorang. Di dalam kehidupan sehari‑hari istilah sukses biasanya dikaitkan dengan kepemilikan materi (kekayaan) yang banyak, penghasilan atau gaji yang tinggi, pangkat, kedudukan atau jabatan tertentu (kekuasaan), dan karir yang mapan. DI samping itu, sukses juga sering dikaitkan dengan prestasi puncak, tingkat ketenaran, dan penghargaan prestisius vang pernah diperoleh seseorang, misainva di bidang olah raga, kepemimpinan. kewirausahaan sosial dan seni budaya, politik, dan penemuan ilmiah.
Sudah tentu semua yang berkaitan dengan sukses tersebut di raih orang melalui proses yang panjang dan berliku. Di samping bekerja keras orang juga harus sanggup mengatasi berbagai kesulitan , tantangan dan hambatan. Di sini di butuhkan sejumlah kwalitas penting dari diri pribadi orang itu agar dapat meraih sukses sebagaimana yang diinginkan. Banyak contoh orang meraih sukses setelah mereka menjalani dan menekuni pekerjaan selama bertahun‑tahun, bahkan lebihdari dua puluh tahun ,yang dulunya di mulai dari usaha kecil yang seolah tidak berarti apa‑apa, dengan menjalani kehidupan yang serba susah dan penuh dengan keprihatinan. Secara prinsip dapat dikatakan bahwa tidak ada satupun sukses yang diraih seseorang hanya semalam dan tanpa jerih payah. Sukses dalam arti sebenarya selalu. diraih oleh seseorang dengan kerja keras dan jerih payah baik secara fisikmaupun mental (pikiran) di dalam jangka waktu yang cukup lama.
Bedasarkan wawancara. terhadap 50 orang sukses terkenal vang dilakukan oleh Edward de Bono (1991), secara. umum dapat disimpulkan bahwa peran kemampuan intelektual terhadap sukses tidak menonjol. Justru, faktor kepribadian (bukan intelektual) berperan sangat besar untuk, meraih sukses di dalam hampir segala keadaan dan bidang pekerjaan. Faktor kepribadian yang sangat penting adalah energi, persistensi, determinasi, dan kekerasan. hati. Di samping itu, juga dapat ditambahkan di antaranya adalah adanya tindakan, integritas dan harapan untuk sukses kemampuan untuk berpikir besar, kernampuan menetapkan tujuan dan target, dan juga. bermimpi; kreativitas, upaya memanfaatkan dan menciptakan peluang, ada semangat dan gairah serta. kesediaan untuk‑ membuat sesuatu terjadi
Agar mudah diingat, kualitas pribadi yang menjadi kunci sukses tersebut dapat dijabarkan dari singkatan huruf‑huruf yang ada pada kata SUKSES itu sendiri (Suharnan, 2006).
Karakteristik Pribadi Sukses
SUKSES
S = Sasaran
U = Ulet
K = Komitmen
S = Serius
E = Energi
S = Suka tantangan
1. Sasaran
a. Mempunyai angan‑angan, cita‑cita, impian sebagai gambaran masa depan
jauh.
b. Mempunyai sasaran dan target jangka pendek dan panjang.
c. Mempunyai keyakinan kuat dan harapan untuk menjadi sukses.
d. Mempunyai obsesi dan berpikir besar.
2. Ulet
a. Kekerasan hati (gigih, bertekad kuat) dalam berusaha sampai berhasil.
b. Tekun, sabar, dan konsisten dalam bekerja.
c. Pantang menyerah ketika menghadapi kesulitan dan hambatan.
d. Tahan banting
3. Komitmen
a. Selalu berorientasi pada tujuan yang telah ditetapkan.
b. Bertanggung jawab dalam tindakan yang dilakukan.
c. Berpegang teguh pada janji yang pernah dibuat.
d. Jujur pada diri sendiri dan orang lain.
e. Marnpu menunda kesenangan sesaat dan mengendalikan diri.
f. Tidak suka menunda pekerjaan.
4. Serius
a. Bersungguh‑sungguh dalam bekerja atau melaksanakan tugas.
b. Tidak bekerja asal jadi, tetapi bekerja dengan standar kualitas yang baik.
c. Sanggup berkonsentrasi/fokus pada tugas dalam jangka cukup lama.
d. Bekerja secara maksirnal.
5. Energi
a. Memiliki energi fisik dan stamina yang prima; sehat, tidak gampang sakit.
b. Memiliki energi mental (pikiran) cukup, tidak mudah jenuh, atau lelah.
c. Memiliki semangat tinggi dan kemauan bekerja keras untuk meraih sukses.
6. Suka Tantangan
a. Memanfaatkan peluang.
b. Menciptakan peluang.
c. Sanggup menerima tugas baru tidak menolak sebelum dicoba dilakukan.
d. Mencari sesuatu yang belum pernah dilakukan.
e. Mengambil inisiatif sendiri tanpa tergantung pada orang lain.
f. Mampu menentukan sendiri target dan sasaran yang akan dicapai.
Kiat‑Kiat Membangun Pribadi Sukscs
0leh karena sukses di dalam bidang,apapun tidak datang, kepada seseorang, dengan tiba‑tiba. tetapi diperoleh melalui proses panjang, dan usaha vang, tidak kenal lelah, maka diperlukan modal kualitas diri pribadi vang memadai sebagaimana telah disebutkan di depan. Kiat‑kiat berikut dapat dilakukan oleh setiap orang, yang ingin memiliki kualitas pribadi sukses.
1. Membangun Kebiasan‑Kebiasaan Positif
Membiasakan diri untuk: (a) membuat perencanaan sebelum melakukan sesuatu kegiatan; dimulai dari hal‑hal kecil dan tugas‑tugas rutin misalnya mengajar dan memenuhi kebutuhan sehai‑hari. (b) Menetapkan tujuan, sasaran dan target tertentu untuk jangka pendek (mendesak) dan jangka panjang, kemudian mengambil langkah-langkah tertentu untuk melaksanakan dan mengevaluasi hasil‑hasilnya. (c) Bekerja atas dasar prioritas (bukan semua tugas dikerjakan di dalam waktu yang bersamaan), sehingga, energi dapat digunakan untuk hal‑hal yang lebih bermakna. (d) Sesekali melakukan tugas yang kompleks atau sulit (misalnya proyek), sehingga orang akan terlatih bekerja keras baik secara fisik maupun pikiran di dalam waktu cukup lama. (e) Berolahraga secara teratur dan menjaga pola makan yang sehat, agar energi fisik tersedia cukup besar dan stamina kerja tetap prima, dan badan selalu sehat tanpa gangguan penyakit yang berarti.
2. Menanamkan Motivasi Intrinsik di dalam Bekerja
Didalam menjalankan suatu tugas, telah dikenal antara lain adanya dua jenis motivasi, yaitu motivasi intrinsik dan ekstrinsik. Orang dikatakan memiliki motivasi intrinsik apabila orang menialankan tugas demi mencapai kepuasan psikologis atau tanggung jawab pribadi. Sebaliknya, orang dikatakan memiliki motivasi ekstrinsik, apabila. ia menjalankan tugas. demi memperoleh imbalan dar luar, misalnya uang, materi, penghargaan atau jabatan.
Didalam konteks motivasi itu, agar mencapai sukses maka seseorang guru harus lebih berorientasi pada motivasi intrinsik daripada ekstrinsik di dalam menjalankan tugas profesinya. Sebab, dengan motivasi intrinsik orang akan bekerja secara maksimal sesuai dengan kapasitasnya, yang seringkali melampaui tuntutan tugas yang semestinva: dengan motivasi ekstrinsi orang akan bekerja secukupnya sesuai dengan imbalan yang akan diterimanya. bahkan sering di bawah standar yang ditetapkan. Salah seorang sukses pernah mengatakan: "jika uang yang dijadikan rnotivasi. biasanya orang akan gagal". Jadi jika seorang guru sebagai pegawai negeri atau swasta dengan gaji bulanan yang tidak mencukupi untuk kebutuhan hidup layak, dapat dipastikan kinerj guru akan jauh dari standar yang telah ditetapkan manakala motivasi utama guru adalah uang sebagai imbalannya. Padahal, biasanya materi, uang dan jabatan akan mengikuti dengan sendirinya, ketika seseorang memperoleh kepuasan psikologis dari bekerja bersungguh‑sungguh dan berorientasi pada kualitas. Oleh karena itu, yang harus dikedepankan seseorang di dalam melaksanakan tugas adalah motivasi intrinsik tanpa mengabalkan motivasi ekstrinsik.
3. Melanjutkan Pendidikan ke Jenjang lebih Tinggi
Perjalanan karir di bidang apa saja termasuk sebagai guru adalah tidak statis, tetapi sering mengalami perubahan sesuai dengan tuntutan jaman. Oleh sebab itu, setiap guru harus selalu meningkatkan kompetensi dan profesionalitas. Di antaranya yang penting adalah menempuh pendidikan formal pada jenjang yang lebih tinggi, rnisainya sarjana (Sl), magister (S2), babkan doktor (S3). Sebagai catatan, sekarang guru‑guru di sekolah dituntut harus niemiliki ijasah Sarjana (SI). Bahkan banyak guru baik sekolah dasar maupun sekolah menengah yang sudah berhasil menempuh program magister (S2).
4. Mengikuti Sertifikasi dan Pelatihan
Dalam rangka meningkatkan kompetensi dan profesionalitas, maka setiap guru harus ikut serta dalam program sertifikasi yang sekarang sudah dimulai oleh pemerintah. Guru‑guru yang ingin sukses di dalarn karirna tentu akan menyambut dengan senang hati dan penuh antusias terhadap program sertifikasi itu, bahkan mungkin minta diikutsertakan pada sesi‑sesi awal sehingga tidak perlu menunggu waktu yang lebih lama.
Sekarang adalah era informasi. komunikasi dan komputerisasi, seseorang harus memperkaya diri dengan mengikuti kursus‑kursus dan pelatihan‑petatihan, misalnya kursus, atau pelatihan manajemen dan kepemimpinan, teknologi informasi (komputer), pengembangan pribadi sukses, keterampilan komunikasi dan hubungan interpersonal, dan bahasa asing. Juga, berpartisipasi aktif di dalam berbagai kegiatan diskusi dan serninar terutama yang ada kaitannya dengan dunia pendidikan.
5. Memilih Lingkungan yang Kondusif
Bagaimanapun juga lingkungan sangat besar pengaruhnya terhadap sikap dan oerilaku sesorang (positif atau negatif). Agar memperoleh banyal manfaat positif dari lingkungan, seseorang harus memilih lingkungan dan pergaulan vang menunjang profesinya. Misalnya. seorang guru dapat bergabung dengan organisasi profesi guru (PGRI), guru bidang studi yang sesuai dengan tugas mengarnya, misalnya bibingak konseling (BP), IPA dan matematika: bergaul dan bertukar pikiran dengan guru‑guru lain dan orang‑orang yang menaruh minat besar terhadap dunia pendidikan.
6. Membaca Buku dan Menemukan Orang Sukses sebagai Idola
Membaca buku‑buku sejarah kehidupan orang‑orang sukses dan terkenal baik di tingkat daerah, nasional maupun internasional (misalnva pendidik, penemu, negarawan, pelaku bisnis, peraih medali emas atau hadiah nobel, dan tokoh‑tokoh masyarakat) akan mernberikan aspirasi dan pengetahuan yang penting bagi kita. Di samping itu, dengan mengetahui pengalaman‑pengalaman mereka kita juga dapat menemukan salah satu di antara orang‑orang sukses sebagai model (orang sukses yang dijadikan idola), yang dapat kita tiru. dan ikuti jejaknya.
Untuk menemukan beberapa orang sukses yang akan dijadikan sebagai idola atau contoh panutan, selain membaca buku riwayat hidup mereka, juga dapat dilakukan melalui tatap muka langsung misalnya mewawancarai mereka, atau mengikuti berita‑berita pada media masa yang mernuat bagaimana kiprah dan keberhasilan yang pernah dicapai oleh mereka.
7. Mengunjungi Tempat‑Tempat Penting
Seorang harus banyak bepergian untuk berkunjung ke berbagai tempat penting dan bersejarah baik di dalam negeri maupun luar negeri, Misalnya mengunjungi sekolah yang lebih maju dalam rangka studi banding, musium, pusat bisnis atau pemerintahan (juga keraton), pusat pementasan karya seni‑budaya, dan bangunan megah. Di samping itu, seseorang juga. dapat mengunjungi kelompok masyarakat khusus, misalnya suku primitif atau sebaliknya, masyarakat modern.
Dernikian, semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi para guru‑guru dan kita semua yang ingin menjadi bagian dari orang‑orang sukses. Akhir kata: .”Anda akan sukses kalau anda maui".
Daftar Bacaan
De Bono, E. (1991).Taktik dan Kiat Ilmu Sukses, Alih bahasa oleh Agus Maulana. Jakarta: Bina Aksara.
McRae, H. (1995).The World in 2020. Alih bahasa oleh Anton Adiwijoto. Jakarta: Bina Aksara.
Sternberg, R.J. (1997). Succesful intelligence: How practical and creative intelligence detemine success. NY: A Plume Book,.
Suharnan (1997), Pemberdayaan masyarakat global dalarn kerangka pemikiran psikologis. Anima, jurnal Psikologi Indonesia, 12, 290-295.
Suharnan (2002). Mempersiapkan diri untuk meraih sukses di dalam karir. Makalah, disampaikan pada kuliah umum mahasiswa fakultas psikologi Universitas Merdeka, Malang, 10 September.
Suharnan (2003). Peran potensi diri di dalarn, meraih sukses: Suatu kajian psikologi. Pidato Ilmiah, disampaikan pada Upacara Dies Natalis ke 39 dan Wisuda Universitas Darul Ulum, Jombang, 07 September.
Suharnan (2006), Membangun pribadi menuju sukses. Makalah, disampaikan pada kuliah umum mahasiswa FAI Universitas Darul Ulum, Jombang, 12 Nopember
Sumber : www.geocities.com/guruvalah
Tips sukses spmb
Langkah pertama :
Kalo mau ikutan spmb, ya... Diniatkan yang mantap, jangan setengah hati. Siapkan semua "senjata" serta "perlengkapan perang" untuk menghadapi yang satu ini. Mantapkan tujuan kita pengen masuk kemana, misalnya kedokteran ui, teknik elektro itb, psikologi ugm atau teknik mesin undip. Pertimbangkan pula keadaan ekonomi orang tua, cita-cita, harapan orang tua, serta peluang kerjanya setelah lulus nanti.
Beli atau pinjam soal-soal spmb tahun-tahun terdahulu dari kakak-kakak kelas atau saudara, terus kerjakan soal-soal itu sebanyak mungkin. Karena soal spmb itu mengulang dari soal-soal tahun terdahulu, paling angkanya yang berubah. Oya, dari dulu spmb itu namanya selalu berubah, tapi inti-nya tetap sama. Dulu namanya proyek perintis, skalu, sipenmaru, umptn kemudian spmb.
Juga jangan remehkan mata ujian hari pertama, terutama bahasa indonesia. Rugi lho kalo nilai bhs. Indonesianya kecil, karena itu merupakan tambang nilai di spmb. Minimal bisa 25 soal yang benar.
Langkah kedua :
Kalo bisa ikutan bimbingan belajar alias bimbel, tapi kalo nggak bisa, usahakan untuk mencari referensi lain di luar bimbel, jangan malu minta ajarin sama kakak kelas yang sudah kuliah, bahkan jangan malu juga nanya sama adik kelas yang lebih pintar. Yang penting kan ilmunya bisa diserap.
Langkah ketiga :
Untuk mengukur sejauh mana persiapan dan kemampuan kita, ikut try-out spmb, pasti donk banyak tempat atau instansi di kotamu yang ngadain try-out spmb. So jangan ragu untuk ikutan. Begitu keluar nilai try-out kamu segera cocokkan sendiri dengan passing grade jurusan dan ptn yang akan kamu tuju. Kalo nilainya cukup pilih saja, tapi kalo nggak cukup pilih alternatif lain, misalnya pilih jurusan atau ptn dengan nilai passing grade yang lebih rendah. O,ya untuk bisa mengetahui nilai passing grade jurusan di ptn, bisa dilihat di bimbel atau tanya saja sama teman yang ikutan bimbel. Jangan segan untuk konsultasi ke pengajar bimbel ataupun ke kakak kelas yang pernah lulus umptn.
Langkah keempat :
Jangan lupa untuk selalu meminta petunjuk serta pertolongan dari allah, karena hanya allah yang akan menentukan segalanya. Perbanyak ibadah sunnah, misalnya shalat qiyamul lail, puasa senin kamis, shalat dhuha, dll
Langkah kelima :
Hati-hati dengan masalah teknis pengisian formulir pendaftaran. Pengisian formulir harus tepat dan hati-hati. Tidak boleh kotor, basah, terlipat atau lecek. Karena formulir umptn akan dibaca oleh komputer sehingga hal-hal tsb sangat berpengaruh. Sayang kan..., kalo sampai terjadi "kecelakaan" pada formulir spmb, padahal sebenarnya nilai spmb kamu cukup tinggi.
Langkah keenam :
Jangan lupa untuk survei tempat umptn minimal 2 hari sebelum spmb. Ambil resiko terburuk yaitu mendapatkan meja atau tempat duduk yang kurang memadai. Jadi, siapin semaksimal mungkin. Dan pada malam hari sebelum spmb jangan terlalu banyak belajar ataupun kegiatan berat lainnya, tapi istirahat untuk menenangkan pikiran, agar besoknya bisa segar. Pakailah pakaian yang nyaman, agar tidak menggangu konsentrasi.
Siapkan "senjata-senjata" berikut : minimal 4 mata pensil 2b yang siap pakai, bisa dengan menyerut 2 ujung pensil 2b, penghapus yang bersih, penggaris, klip/penjepit kertas minimal 5 buah, pulpen, tissue/saputangan, alas, jam yang tepat, air minum. O, ya kartu ujian-nya nggak boleh lupa lho...
Kalo bisa datang jangan terlalu kepagian atau terlambat. Kalo kepagian kita bisa be-te nungguin lama, kalo telat kita juga nggak tenang ngerjain soal. Waktu optimalnya kira-kira 15 menit sebelum masuk. Hindari membawa buku yang banyak, karena memberatkan, cukup "senjata" saja yang dibawa. Yakinlah bahwa kamu telah mengisi form nama, nomor ujian dan kode soal dengan benar. Jangan lupa periksa berulang-ulang.
Untuk mengerjakan soal-soal hitungan, pertama bukalah klip pada naskah soal, kemudian pisahkan satu-satu per mata pelajaran, jepit dengan klip/penjepit kertas yang telah kamu siapkan, nah, misalnya untuk mengerjakan soal fisika, dapat menghitung/mencoret-coret pada belakang naskah soal pelajaran lainnya. Lebih mudah khan??
Kerjakanlah soal yang kamu anggap paling mudah terlebih dahulu baru meningkat ke yang sedang kemudian yang sulit, sisakan waktu minimal 15 menit untuk memindahkan ke lembar jawaban. Manfaatkan waktu-waktu "injury time" untuk mengecek terakhir kebenaran form nama, nomor dll serta jawaban pada lembar jawaban komputer. Jangan terburu-buru tapi juga jangan membuang waktu. Hindari pekerjaan yang membuang waktu misalnya menyerut pensil, dsb. Rugi lho.
Setelah selesai ujian, langsung pulang, jangan keluyuran, siapkan untuk hari kedua. Kalo perlu sembunyikan lembaran soal yang kita bawa pulang. Hindari ajakan teman untuk membahas soal atau mengungkit-ungkit tentang umptn, karena akan sangat mengganggu "jiwa" kita. Kecuali kalo sudah "kebal" sih nggak apa-apa. Kalau ketemu teman cukup dengan obrolan yang ringan saja.
Hal-hal yang tak kalah penting dalam pemilihan jurusan
Sebelum memilih jurusan, ada baiknya cari informasi terlebih dahulu agar tidak terjadi penyesalan di kemudian hari. Tanya-tanya sama kakak kelas atau teman, bagaimana kuliahnya, dosennya, fasilitasnya, pergaulannya, ospeknya, biaya kuliahnya, praktikumnya, dll.
6 Kebiasaan yang Mendukung Kegiatan Menulis
Kalau Anda seorang pelukis, tentunya Anda terbiasa sekali bermain dengan kuas dan cat lukis. Kalau Anda programmer pastinya PC, laptop dan buku komputer sangat familiar dengan Anda. Nah, begitu juga dengan penulis. Ada beberapa kebiasaan yang secara umum sering dilakukan oleh orang yang suka dan terbiasa menulis. Diantaranya adalah :
1. Membaca.
Lawannya menulis adalah membaca. Kalau Anda terbiasa membaca, entah itu buku, dari internet dan lain-lain, maka Anda pasti bisa menulis. Terlepas dari gaya dan bahasa, Anda telah memiliki banyak ide dan gagasan yang sebenarnya itu tersimpan di memory Anda saat Anda melakukan kegiatan membaca. Setiap hal yg tersimpan di memory kita akan menjadi energi pendukung dari kegiatan menulis kita. Semakin sering membaca juga semakin meningkatkan rasa percaya diri kita untuk menulis.
2. Berdiskusi dengan teman atau orang lain.
Biasanya saat diskusi dengan teman atau orang lain, kemampuan pikiran kita untuk menganalisa dan berpendapat akan mengalir dengan baik. Ini terjadi karena adanya komunikasi dua arah dengan lawan diskusi kita. Semakin sering kita mendapatkan masukan atau sanggahan, semakin terasah pula kemampuan berpikir dan kesanggupan untuk memahami pendapat lain. Dari kebiasaan berdiskusi memberi semacam kelincahan dalam memberikan sudut pandangan di setiap tulisan kita.
3. Mengikuti Seminar.
Wah seminar jadi kebiasaan ? hehehe boleh donk. Kita semua tahu, kalau mengikuti sebuah seminar, pastinya ada ilmu yang kita peroleh. Dari topik seminar sebenarnya kita sudah bisa langsung menuangkan ide atau gagasan atau juga sekedar mereview ulang dari tema seminar tsb. Seminar memberikan wawasan baru kepada kita. Dan biasanya sebuah seminar sudah dipersiapkan dengan matang dari mulai pemilihan tema, referensi tema sampai dengan kesimpulan akhir. Ini merupakan ‘library’ yang berharga untuk
menambah wawasan menulis kita.
4. Mengamati Peristiwa.
Setiap hari pastinya banyak kejadian dan peristiwa yang kita alami. Sedikit saja kita coba untuk lebih detail dan menerung sejenak dari peristiwa yang kita lihat atau alami. Mengamati berarti ‘mencerna’ dengan pikiran, bukan hanya melihat lalu melupakannya. Sedikit fokus dan berpikir, itu berdampak terhadap kemampuan kita untuk mengembangkannya dalam bentuk tulisan yang jelas dan mendalam. Apapun peritiwanya, kalau memang kita mengalami atau melihat sendiri, mendokumentasikannya dalam bentuk tulisan akan lebih mudah. Itu pasti.
5. Berimajinasi.
Nah ini yang kadang suka kita lupakan. Setiap orang pasti pernah berimajinasi. Tapi tidak semua orang mendokumentasikan imajinasinya Buat seorang penulis fiksi, kegiatan berimajinasi mutlak harus dilakukan. Tapi bukan berarti seorang penulis ilmiah atau non fiksi harus mengabaikan kebiasaan yang satu ini. Berimajinasi adalah kegiatan yang menyenangkan, karena pastinya kita sebagai ’sutradara’ bisa sesuka hati membuat ’skenario’. Dan jangan lupa, berimajinasi lalu ditulis, kalo tidak ya sama juga bo’ong
6. Blogging.
Yang terakhir ini yang paling menarik
Di dalam aktivitas blogging pastinya kita menulis, diskusi dan berimajinasi.
Menulis ? sudah pasti, gak mungkin gak ada tulisan.
Diskusi ? selalu ada ruang untuk diskusi, terutama kalau kita posting tema yang menarik atau menimbulkan kontroversi.
Berimajinasi ? yup, minimal kita penasaran, mereka-reka kayak apa sih sang pemilik blog yang kita kunjungi, bener khan ?
Itulah beberapa kebiasaan yang kiranya bisa memberi dukungan kita dalam kegiatan menulis. Dan seperti biasa, ada yang ingin menambahkan ?
*Penulis : Setiaji sumber : Blog : www.kodokijo.net
Kiat Sukses Memulai Bisnis Dengan Modal Dengkul
Ditulis oleh Iwan Darmawansyah di/pada Juli 15th, 2007
Mencari pekerjaan sulit di zaman ini. Jumlah angkatan kerja tidak sesuai dengan ketersediaan formasi pekerjaan. Angka pengangguran meningkat setiap tahun. Data tentang pengangguran terbuka dari tahun 1996 ke 2000 meningkat, yaitu sebesar 4,228,115 orang (4,9%) tahun 1996 menjadi 5,965,795 orang (6,1%) pada tahun 2000. (Pengukuran pengangguran terbuka dalam sakernas, laporan # 35 paper statistik # 7, uzair suhaimi, yahya jammal, 2001)
Usaha sektor non formal menjadi pilihan mereka yang tidak mendapatkan pekerjaan. Ironinya, kesempatan mendirikian usaha kecil tidak menarik bagi mereka yang memiliki latar belakang pendidikan relatif tinggi.
Kompetensi Saja Sudah Cukup?
Idealnya lulusan perguruan tinggi memiliki kemampuan melakukan analitis, yaitu merubah persoalan yang rumit menjadi sederhana. Kemampuan analitis dapat digunakan untuk mengungkapkan kemungkinan resiko dan peluang pendirian sebuah usaha.
Sayangnya kebanyakan lulusan perguruan tinggi lebih menonjolkan aspek munculnya dampak negatif daripada peluang bisnis itu sendiri. Sehingga mereka tidak memiliki keberanian untuk memulai usaha.
Bagaimana mungkin cukup bagi penyelenggara program studi hanya dengan mengandalkan mata kuliah kewirausahaan (2 sks) untuk dapat menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi teknologi dan spirit kewirausahaan (technopreneurship). Apalagi sistem perkuliahaan kewirausahaan lebih banyak di ruang kelas.
Modal Usaha sebagai Penghambat?
Selanjutnya aspek permodalan adalah salah satu faktor penghambat lahirnya wirausahawan muda. Modal dianggap segala-galanya. Perhitungan investasi, operasional, dan tingkat pengembalian modal menjadi begitu rumit dan menakutkan. Sehingga mereka lebih memilih sebagai sosok pencari kerja daripada membuka usaha dan lapangan kerja.
Modal usaha penting tetapi bukan dijadikan alasan untuk tidak memulai usaha. Modal merupakan sumberdaya kekayaan perusahaan. Pemodal berarti pemilik modal. Sedangkan Modal tidak selalu dalam wujud uang. Sehingga Pemodal adalah pemilik sumberdaya yang bukan selalu uang.
Keberanian = Faktor Kunci
Jadi bagi seseorang yang tak memiliki uang terbuka peluang untuk menjadi pemilik usaha “bussines owner”. Pernyataan banyak orang bahwa modal non uang adalah modal dengkul. Dengan bermodalkan dengkul kaki sendiri, seseorang dapat menahan beban dan berjalan serta beraktivitas usaha. Artinya tanpa diawali modal uang sebuah usaha dapat berdiri dan berjalan serta tumbuh dan berkembang membawa harapan pemiliknya.
Kalau seseorang tidak memiliki dengkul sendiri, gunakan dengkul orang lain. Orang lain tidak akan pernah marah sepanjang ada konpensasi yang menarik dan fleksibel. Membangun kemitraan permodalan merupakan kombinasi yang rasional dan menjadi kekuatan lebih besar daripada modal dengan dengkul sendiri.
Keberanian mengambil resiko adalah syarat utama untuk menjadi pebisnis. Keberanian memulai usaha dengan modal dengkul menandakan kapasitas, kekuatan dan daya saing pebisnis itu sendiri. Semua orang memiliki potensi menjadi pebisnis modal dengkul. Perbedaan menyolok satu dengan yang lain adalah keberanian bertindak.
Sikap berani bertindak mampu mengeliminir hambatan terbesar merintis bisnis, yaitu permodalan. Hambatan ketidaktersediaan modal hendaknya jangan dijadikan alasan untuk tidak memulai, tetapi sebaiknya memicu lahirnya kreatifitas dan gagasan yang gemilang.
Setiap gagasan atau ide yang lahir dari rahim seorang tak ber-uang memiliki daya tahan untuk bertahan dan berpotensi tumbuh berkembang. Beranikah anda menjadi Pebisnis modal dengkul?
Ayo Indonesia Bangkitlah !
